ANDRI ALIMUDDIN yang Saya Kenal - Okami.id

Jika saja tidak bertemu Andri Alimuddin, saya membayangkan betapa hampanya dunia kemahasiswaan yang saya jalani di Unhas.

ANDRI ALIMUDDIN yang Saya Kenal

ANDRI ALIMUDDIN yang Saya Kenal
Andri Alimuddin

Oleh: Yusran Darmawan*

Jika saja tidak bertemu Andri Alimuddin, saya membayangkan betapa hampanya dunia kemahasiswaan yang saya jalani di Universitas Hasanuddin. Kami memang beda jurusan. Dia kuliah di Hubungan Internasional. Saya belajar di Ilmu Komunikasi. 

Tapi kami bertemu dalam banyak ruang-ruang diskusi kemahasiswaan. Meskipun beliau lebih senior dan usianya jauh di atas saya (piss...), dia menempatkan diri sepantaran dengan siapapun.

Pada masa itu, ruang kuliah amat membosankan. Ruang kuliah menjadi ruang yang hanya sekadar mengisi rutinitas. Kami mahasiswa hanya sekadar datang, mendengarkan, kemudian pulang.

Tapi Andri menjadi oase penting yang membuat kampus terasa menarik. Dia bisa mendiskusikan berbagai mazhab dan aliran pemikiran dalam tradisi ilmu sosial dengan cara yang sederhana dan senikmat menyesap kopi di pelataran pintu 2 Unhas.

Sejauh yang saya ingat, Andri adalah mahasiswa yang bisa membaca sampai berjam-jam. Pernah, di satu sudut asrama mahasiswa, saya tertidur pada jam 9 malam, ketika dirinya masih membaca. Ketika bangun jam 7 pagi, dia masih membaca di posisi yang sama.

Baca: Vokalis Band Siap Wakili Luwu di DPR RI

Mulanya, saya mengenalnya di organisasi Lingkar Pengkajian Sosial Politik (Lipstik), lembaga di bawah naungan Senat Mahasiswa Fisip Unhas. Dia menjadi pemimpin lembaga kajian yang produktif melahirkan berbagai macam rekomendasi terkait politk nasional.

Pada akhir tahun 1990-an dan awal 2000, kampus baru saja merasakan demokratisasi dan keterbukaan. Beberapa wacana yang tadinya tabu, akhirnya bisa dipelajari dan didaras di berbagai lembaga kajian. Namun, saat itu tak banyak orang kampus yang berani mengkaji secara terbuka, khususnya pemikiran transformatif dan kritis.

Dalam periode yang haus dengan wacana baru itu, Andri Alimuddin datang mengisi kekosongan. Dia menggelar tikar untuk mengkaji soal-soal itu di berbagai fakultas. Dia ada di semua lembaga kajian dan berdiskusi dengan siapa saja.

Sehari-hari dia sibuk untuk memberi materi. Padahal, saya tahu persis, tak ada materi atau uang lelah dari hilangnya waktu dan tenaganya untuk mengajar. Dia pun berkecimpung di organisasi ekstra kampus, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Beberapa kali dia minta saya untuk menggantikannya mengajar. Tapi waktu itu, saya sering banyak alasan. Mulai dari sibuk dengan tugas-tugas kuliah hingga ikut meneliti. Padahal, itu hanya bualan saja. Faktanya, saya malah sibuk pacaran, melukis, juga sesekali ikut lomba puisi.

Hingga kini, saya selalu mengagumi semangatnya untuk mengajari yang lain.

Ketika dirinya terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Makassar Timur yang pertama, dirinya makin penuh dengan aktivitas. Sering saya melihatnya mengisi materi semalam suntuk. Dia tak lelah-lelah.

Di mata saya, dia bukan tipe organisatoris yang handal. Saya sering mengkritik manajemen HMI Cabang Makassar Timur yang amburadul di masa itu. Saya melihat HMI berjalan tanpa program yang jelas. Bahkan urusan-urusan komisariat di ingkat cabang banyak terbengkalai.

HALAMAN
12
Leaderboard
close