Berkat Syair, Ribuan Warga Pulau Itu Selamat dari Tsunami [Page 3] - Okami.id

DI media sosial, orang-orang sibuk menyalahkan banyak hal terkait bencana gempa dan tsunami di Palu [Page 3]

Berkat Syair, Ribuan Warga Pulau Itu Selamat dari Tsunami

Berkat Syair, Ribuan Warga Pulau Itu Selamat dari Tsunami
Saat saya singgah berpose di Pulau Simeulue Cut, Aceh

Maka ketika tanda-tanda alam menunjukkan adanya tsunami, masyarakat telah siaga dengan berbagai kemungkinan. Mereka lalu bergerak ke perbukitan untuk menyelamatkan diri. Mereka membaca tanda alam, memahami makna di balik setiap realitas, lalu menentukan langkah-langkah terbaik. Kearifan inilah yang membuat dunia begitu mengagumi Simeulue.

Yoko Takafuji membandingkan syair di Simeulue itu dengan syair Inamuranghi di daerah Wakayama, Jepang. Ada juga syair tsunami tendenko dari daerah Iwate. Di dua daerah ini, bila terjadi tsunami, korbannya lebih sedikit.

"Isi cerita agak beda, tapi intinya sama. Tsunami tendenko misalnya. Warga diminta untuk langsung lari dan tidak perlu memikirkan keluarga, “ katanya, sebagaimana dikutip satu media.

Kunjungan di Pulau Simeulue membuat Yoko tergerak untuk melakukan banyak hal. Dia memiliki misi untuk menyebarkan cerita-cerita Simeulue di berbagai belahan bumi lain yang rentan tsunami, termasuk Jepang dan negara-negara Pasifik.

Setidaknya, pengalaman warga Simeulue bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang untuk menyusun satu protokol atau panduan penyelamatan yang berbasis pada kearifan lokal.

***

TULISAN Ahmad Arif di Kompas benar-benar membuka mata. Katanya, kawasan Tanah Runtuh di Kelurahan Talise, Palu, adalah kawasan yang pernah diremuk oleh gempa dan longsor. Nama Tanah Runtuh adalah nama yang diberikan karena tanah di situ pernah runtuh hingga menelan banyak korban.

Jurnalis Kompas itu telah mewawancarai sejumlah warga Palu yang mengaku pernah mendengar cerita tentang bencana longsor dan tsunami di kawasan itu. Sejarah mencatat, pada tahun 1920-an longsor dan tsunami pernah terjadi. Itu adalah fakta sejarah. Sebab kawasan itu berada di sesar Palu-Koro sehingga menjadi langganan gempa.

Sebagaimana dicatatnya, hari ini, kisah-kisah dan penamaan tempat itu hanya dianggap sebagai dongeng. Bahkan orang dewasa pun mengabaikannya sebab dianggap hanya sebagai kembang pengantar tidur. Mereka tidak mewariskannya kepada anak-anak sebab dianggap biasa saja.

Padahal, pasti ada pesan kuat mengapa tepat itu dinamakan Tanah Runtuh. Pasti ada pesan hebat yang hendak disampaikan kepada generasi berikutnya.

Survei yang dilakukan Litbang Kompas setahun lalu menemukan 63 persen responden di Kota Palu tidak tahu bahwa daerah mereka rawan bencana. Selain itu, 95 responden juga merasa aman dari risiko bencana alam.

Makanya, mereka merasa tidak penting untuk mewariskan ingatan tentang bencana. Padahal, jika pewarisan itu terjadi, maka masyarakat bisa melakukan deteksi dini dan bersiap menghadapi berbagai risiko bencana. Masyarakat bisa lebih tangguh dan tahu apa yang harus dilakukan saat tanda-tanda bencana mulai tampak di depan mata.

Saya sepakat dengan pendapat Yoko Takafuji. Daripada sibuk menyalahkan teknologi dan pemerintah, jauh lebih baik kita memperkuat ikatan sosial di masyarakat. Jauh lebih mendesak untuk memperkuat kapasitas masyarakat sehingga siap menghadapi situasi apa pun.

Deteksi dini harus diperkenalkan kepada masyarakat. Anak-anak kita harus diajarkan kembali untuk mengenali dongeng, syair, hikayat, dan tuturan masa silam. Sebab semuanya adalah pesan-pesan yang merupakan akumulasi pengetahuan selama ribuan tahun.

Dalam setiap dongeng, pasti ada cerita yang harusnya kita serap dan pelajari demi menyelamatkan generasi hari ini dan masa depan. Tugas kita adalah bagaimana menyerap semua kisah-kisah kearifan itu telah dikemas menjadi beragam media komunikasi, mulai dari komik, buku, hingga pembacaan syair.

HALAMAN
1234
Leaderboard
close