Dari Nyinyir, Pencari Kambing Hitam, Hingga Kisah Relawan Hebat - Okami.id

Ada yang suka nyinyir, mencari kambing hitam, hingga relawan hebat yang berjibaku di lapangan.

Dari Nyinyir, Pencari Kambing Hitam, Hingga Kisah Relawan Hebat

Dari Nyinyir, Pencari Kambing Hitam, Hingga Kisah Relawan Hebat
relawan di lokasi bencana

Oleh: Yusran Darmawan*

Setiap kali bencana alam terjadi, media sosial langsung ramai dengan berbagai postingan. Jika diamati, semua postingan itu akan memberikan kita gambaran tentang berbagai tipe orang serta responnya saat melihat bencana. Ada yang suka nyinyir, mencari kambing hitam, hingga relawan hebat yang berjibaku di lapangan.

Sejauh yang saya amati, pada hari ketika bencana alam terjadi, semua orang memberikan reaksi yang sama. Orang-orang akan langsung membuat meme, tagar, dan pernyataan duka-cita. Hari pertama, semua orang saling mendoakan keselamatan.

Orang-orang akan berusaha menemukan keluarganya, setelah itu mulai mengontak berbagai lembaga yang siap memberikan donasi. Ini berjalan sampai hari ketiga dan keempat. Setelah itu, orang-orang mulai tidak satu barisan.

Masyarakat mulai terpecah dalam beberapa kategori yang menunjukkan bagaimana respon dan pandangannya atas bencana. Sejauh yang saya amati, ada delapan tipe netizen terkait bencana. Anda masuk yang mana?

Pertama, tipe mendadak religius. Banyak yang langsung mengeluarkan dalil-dalil dalam kitab yang mengatakan bahwa bencana itu sebagai azab dari Tuhan. Mulai ada yang posting beberapa ritual yang dianggap jauh dari agama.

Ada yang membawa-bawa kalangan LGBT yang kian menjamur. Bahkan ada yang memposting foto yang isinya suasana bar di kota tempat terjadinya bencana. Ada juga yang mengatakan kawasan yang dihantam bencana itu sering berlangsung maksiat.

Bencana bisa menyebabkan orang-orang lebih religius. Yang bikin tidak nyaman adalah sering kali ada vonis seakan-akan mereka yang kena bencana itu adalah mereka yang mendapat hukuman. Sedang diri yang tidak kena bencana lebih religius.

Kedua, tipe rasional. Mereka yang masuk tipe ini akan berdebat dengan kelompok pertama. Beberapa orang di timeline saya membagikan peta yang isinya frekuensi gempa terjadi di mana saja dalam 10 tahun terakhir.

Di peta itu terlihat kalau Kalimantan tidak pernah terkena gempa. Seseorang mengatakan, “Jika gempa karena banyaknya maksiat, berarti Kalimantan adalah pulau yang semua penduduknya paling suci dan saleh.”

Kelompok ini berpandangan bahwa Indonesia memang berada di jalur ring of fire. Kita berpijak di atas patahan gempa, sehingga yang dibutuhkan adalah kearifan dan kesiagaan untuk menghadapi gempa. Apalagi, nenek moyang menghadapi gempa dengan teknologi rumah yang anti gempa, serta kearifan lokal agar masyarakat waspada.

Ketiga, tipe pencari kambing hitam. Mereka yang masuk dalam tipe ini adalah mereka yang setiap saat mencari kesalahan. Selain menyalahkan adanya ritual sesat sehingga gempa, mereka juga sibuk menyalahkan pemerintah.

Mereka tidak banyak menggalang solidaritas sebab terlalu sibuk mencari kesalahan orang-orang yang berjibaku di lapangan. Mereka mengecam penanganan bencana. Tapi mereka juga tidak melakukan apa pun. Bahkan ketika pemerintah menjelaskan sulitnya medan akibat infrastruktur rusak, tetap saja kelompok ini akan nyinyir.

Mereka merasa selalu benar dan merasa pemerintah telah melalaikan korban. Harus diakui kalau koordinasi bantuan terkesan amburadul.

Akan sangat bagus jika semua pihak memastikan pemerintah akan menjalankan fungsinya yakni hadir di tengah gempa, serta menggalang kerelawanan semua warga tanah air agar peduli gempa.

HALAMAN
123
Leaderboard
close