Dari Nyinyir, Pencari Kambing Hitam, Hingga Kisah Relawan Hebat [Page 2] - Okami.id

Ada yang suka nyinyir, mencari kambing hitam, hingga relawan hebat yang berjibaku di lapangan. [Page 2]

Dari Nyinyir, Pencari Kambing Hitam, Hingga Kisah Relawan Hebat

Dari Nyinyir, Pencari Kambing Hitam, Hingga Kisah Relawan Hebat
relawan di lokasi bencana

Akan sangat elok kalau mereka mengingatkan semua pihak untuk tetap bergerak membantu semua korban bencana. Kata seseorang, “Daripada sibuk mengutuk kegelapan, lebih baik kita menyalakan sebatang lilin.”

BACA: Berkat Syair, Ribuan Warga Pulau Itu Selamat dari Tsunami

Keempat, tipe politisi oportunis. Nah, kelompok ini adalah kelompok yang pandai melihat momen. Begitu ada gempa dan banyak korban, mereka akan sibuk selfie dengan latar gempa. Mereka sibuk menyampaikan gambar apa yang terjadi, terus dirinya seolah-olah datang ke situ dan bersedih.

Mereka membuat video yang berisikan musik menyayat hati, kemudian ada potret dirinya di situ. Mereka yang tipe politisi oportunis yang langsung menyampaikan pernyataan duka, serta memajang foto korban bencana, serta potret diri yang sedang bersedih.

Ada himbauan untuk menyumbang, tapi sempat-sempatnya memasang foto diri dan logo partai. Mereka pandai menyelipkan pesan kampanye di tengah penderitaan banyak orang. Kelompok ini juga suka memolitisasi bencana demi senjata kritik pada pemerintah.

Kelima, tipe pengambil keuntungan. Beberapa hari setelah bencana menghantam, jalan-jalan di berbagai kota akan diramaikan oleh orang-orang yang meminta sumbangan bencana. Masalahnya, tidak ada informasi atau transparansi terhadap para penyumbang ke mana saja dana dialihkan.

Bahkan di satu kota di Jawa Barat, polisi menangkap sejumlah orang yang melumuri tubuhnya dengan cat perak demi minta sumbangan bencana. Kata polisi, orang-orang ini menipu masyarakat sebab dana sumbangan itu ternyata digunakan untuk mabuk-mabukan.

Penipuan yang mengatas-namakan bencana juga berlangsung dalam motif lain. Seorang teman membagikan pesan WA dari seseorang yang memperlihatkan struk sumbangan bencana sebesar 5.500.000. Orang itu mengaku salah transfer, yang seharusnya cuma 500 ribu.

Dia minta dikirimkan sisanya sebab dana itu adalah anggaran kantor. Teman itu mengecek tidak ada dana masuk atas nama orang itu. Tapi orang itu tetap ngotot minta dananya dikembalikan. Teman saya tak mau kalah.

Dia jelaskan mekanisme pengembalian uang, serta ajakan untuk ketemu. Si penipu itu langsung memblokir teman saya. Case closed.

Keenam, tipe penggalang solidaritas. Mereka yang masuk dalam tipe ini adalah mereka yang nuraninya tersentuh lalu mencari cara agar membantu korban bencana. Mereka menggalang bantuan secara mandiri, lalu menyalurkannya ke pihak berwenang.

Mereka tidak banyak bicara di media sosial, juga tidak banyak nyinyir, tapi punya langkah-langkahnya terukur. Mereka adalah tipe yang nuraninya tersentuh, lalu bergerak mengumpulkan bantuan. Saya mengenal beberapa orang dengan tipe ini.

Mereka tidak cuma berhenti pada duka, tapi melakukan banyak hal-hal hebat untuk membantu korban. Mereka juga tidak mau menyalahkan siapa pun. Sebab dalam setiap bencana, koordinasi selalu sulit dilakukan karena banyak hal terjadi, serta duka dan trauma yang menghadang. Tipe penggalang solidaritas selalu menemukan cara untuk membantu.

Ketujuh, tipe relawan hebat. Jika penggalang solidaritas hanya mengumpulkan bantuan dan tidak ke lokasi, para relawan hebat ini adalah mereka yang begitu mendengar gempa, langsung datang ke lokasi demi melakukan sesuatu.

Mereka meninggalkan kenyamanan demi membantu mereka yang sedang trauma. Di antara beberapa nama yang saya kenal adalah Profesor Idrus Paturusi, mantan Rektor Universitas Hasanuddin, yang juga seorang dokter senior.

HALAMAN
123
Leaderboard
close