Erick Thohir di Mata Profesor Amerika - Okami.id

nama Erick Thohir terus meroket dan jadi pembicaraan publik

Erick Thohir di Mata Profesor Amerika

Erick Thohir di Mata Profesor Amerika
Presiden Jokowi bersama Erick Thohir

Oleh: Yusran Darmawan*

Sejak menjadi Ketua Panitia Asian Games 2019, kemudian menjadi Ketua Tim Jokowi-Ma’ruf, nama Erick Thohir terus meroket dan jadi pembicaraan publik. Dia mewakili beberapa kriteria yang amat diidamkan orang-orang.

Dia muda, kaya-raya, suka olahraga, juga pengusaha hebat. Jangan lupa, dia juga seorang Muslim yang taat. 

Beberapa kalangan sibuk membahas sepak-terjang Erick sebagai pengusaha media dan baliho yang membawa gerbongnya merapat ke Jokowi. Dia disebut akan membawa gerbong pengusaha ke Jokowi.

Sebagai pebisnis handal, dia diperkirakan akan bisa menggaet dan mengonsolidasi kalangan milenial dan pebisnis. Namun bagaimanakah sosok Erick yang sebenarnya? Apakah dia akan membawa semua medianya menjadi cebong, sebutan bagi fans Jokowi garis keras?

Bagaimana pandangannya tentang Islam? Apakah dia akan menentukan kebijakan redaksi semua media yang dimilikinya?

Saya menemukan catatan tentang Erick Thohir yang ditulis Profesor Janet Steele, seorang pengajar jurnalistik di George Washington University. Dia bercerita tentang Erick yang belum saya temukan di liputan media-media.

Ternyata Erick memiliki ayah yang etniknya separuh Lampung dan separuh Bugis. Ibunya, setengah Tionghoa dan setengah Jawa Barat. Erick juga menikahi perempuan setengah Tionghoa, dan setengah Betawi. Selain latar belakang etnik, kisah Erick juga menarik untuk diulas.

Erick adalah pebisnis yang memulai kariernya dengan mengakuisisi Republika, media berbasis Muslim terbesar di Indonesia. Dia mengambil-alih media itu saat sedang krisis. Janet Steele menulis dan mewawancarai Erick Thohir saat melakukan riset mengenai Jurnalisme Kosmopolitan di Negara Muslim Asia Tenggara.

Dia melakukan riset pada empat media. Pertama, Sabili, yang disebutnya mewakili Islam skripturalis. Kedua, Republika yang menjadi representasi dari pandangan atas Islam sebagai pasar. Ketiga, Harakah, media Malaysia yang melihat Islam sebagai politik.

Keempat, Malaysiakini yang melihat Islam secara sekuler. Kelima, Tempo, yang dianggapnya sebagai representasi Islam kosmopolitan.

Secara umum, perjalanan Republika menempuh dua periode. Periode pertama adalah periode politik, ketika media itu di bawah ICMI yang menjadi lokomotif pemikiran di era Orde Baru. Periode kedua adalah periode bisnis ketika Mahaka Grup yang dipimpin Erick Thohir mengambil-alih media itu, kemudian mengubah haluan media itu menjadi lebih berorientasi pasar.

BACA: Jangan Salahkan Ratna Sarumpaet

Di mata Janet, Republika di masa Erick Thohir mengalami pergeseran. Saat berkunjung ke media itu, tidak tampak banyak simbol-simbol keislaman. Padahal media ini bertujuan untuk melayani masyarakat Muslim.

Pihak Republika mengklaim apa yang mereka lakukan sesuai dengan garis keislaman. Dalam tulisan tentang sejarah Republika, yang beredar untuk kalangan internal, terdapat kutipan: “Dari halaman pertama hingga terakhir, tak ada yang menyimpang dari kerangka kerja “amar ma’ruf nahi mungkar.”

HALAMAN
123
Leaderboard
close