Film Aquaman dan Teka-Teki ATLANTIS di Indonesia [Page 2] - Okami.id

Tahukah Anda, sejak awal reformasi, banyak orang sibuk mendiskusikan posisi Atlantis yang disebut-sebut berada di lautan Indonesia? [Page 2]

Film Aquaman dan Teka-Teki ATLANTIS di Indonesia

Film Aquaman dan Teka-Teki ATLANTIS di Indonesia
poster film Aquaman

Buku lain yang juga menguatkan Santos adalah Eden in the East yang ditulis ilmuwan biologi molekuler Stephen Oppenheimer. Buku ini membantah versi sejarah tentang nenek moyang kita yang disebutkan dari Cina, sebab DNA orang Indonesia lebih tua dari Cina.

Artinya, orang Indonesia sekarang dibentuk oleh satu peradaban tua yang telah lama menghuni wilayah ini, kemudian memencar karena adanya banjir besar. Setelah dua buku ini terbit, perdebatan tentang Atlantis kian marak.

Umumnya banyak pihak yang setuju dengan pandangan itu dan sibuk memaparkan bukti kehebatan Nusantara di bandingkan bangsa lain. Bahkan beberapa intelektual kita, di antaranya Prof Jimly Ashidique sering mengutip Indonesia sebagai Atlantis yang hilang.

Publik semakin tertarik ketika di zaman SBY, pemerintah membentuk Tim Katastrofik Purba yang dipimpin politisi Partai Demokrat, Andi Arief, yang meneliti bencana purba yang pernah terjadi. Namun dalam perjalanannya, lembaga ini juga mengemukakan banyak hipotesis tentang adanya banyak piramida yang berukuran lebih besar dari piramida Mesir. Di antaranya adalah piramida di Gunung Padang.

buku Prof Santos tentang Atlantis di Indonesia
buku Prof Santos tentang Atlantis di Indonesia

Bahkan tim ini sempat melakukan penggalian, namun dihentikan di tengah jalan. Tim ini meyakini bahwa ada banyak artefak hebat di Nusantara yang masih terkubur sebagaimana dahulu Candi Borobudur ketika digali di zaman Raffless. Artefak itu menunjukkan Nusantara pernah berjaya pada masa silam, yang disebut sebagai Atlantis.

Pada tahun 2007, Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Umar Anggara Jenny juga menyampaikan pandangan banyak peneliti Amerika Serikat yang meyakini Atlantis ada di Indonesia.

Kata Umar Anggara, arkeolog Amerika Serikat (AS) bahkan meyakini benua Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Kata Umar, dalam dua dekade terakhir memang diperoleh banyak temuan penting soal penyebaran dan asal usul manusia.

Salah satu temuan penting ini adalah hipotesa adanya sebuah pulau besar sekali di Laut Cina Selatan yang tenggelam setelah zaman es.

Jika Anda menyempatkan waktu ke Toko Gramedia, pasti Anda akan temukan banyak buku yang membahas Indonesia sebagai Atlantis yang hilang. Di antaranya adalah buku Peradaban Atlantis Nusantara yang ditulis Ahmad Y Samantho dan Oman Abdurrahman.

Buku lain adalah yang ditulis pakar geologi yang bekerja di LIPI yakni Dr Dhani Hilman Natawidjaja berjudul Plato Tidak Bohog, Atlantis Ada di Masa Pra-Sejarah Indonesia. Masih banyak buku lain yang tak mungkin saya sebut satu per satu di sini.

Saya juga menemukan banyak website yang membahas keterkaitan Indonesia dan Atlantis. Bahkan saya juga mendapati banyak fiksi atau novel mengenai Atlantis di Indonesia. Yang terkenal adalah karangan ES Ito berjudul Negara Kelima, serta dwilogi Gerbang Nuswantara yang ditulis Victoria Tunggono. Ada juga novel yang ditulis Tasaro berjudul Nibiru.

Semua buku itu memaparkan fakta bahwa kemungkinan besar peradaban hebat yang digambarkan dalam banyak naskah orang Eropa sebagai rumahnya orang-orang yang jenius dan punya teknologi tinggi itu ada di Nusantara. Atlantis itu diyakini  tenggelam saat terjadi letusan besar sehingga es di kutub mencair.

Yang menarik buat saya, banyak orang yang kemudian bergerak menelusuri reruntuhan Atlantis itu. Majalah Tempo pernah memuat cerita tentang warga Amerika yang rajin menelusuri pesisir selatan Jawa demi menemukan reruntuhan Atlantis.

Sewaktu kuliah di UI, sahabat saya Diah Laksmi bercerita tentang anak muda keluaran UI dan ITB yang membentuk Turonggo Seto yang rajin melakukan ekspedisi demi membuktikan Indonesia adalah Atlantis.

Tak sekadar diskusi, mereka melakukan jelajah candi, menafsir ulang relief candi, dan mengemukakan teori bahwa ada banyak candi-candi lain yang jauh lebih hebat, namun masih terkubur.  Latar belakang pendidikan mereka adalah pertambangan dan geologi, namun sangat meminati kajian masa silam.

HALAMAN
123
Leaderboard
close