Jangan Salahkan Ratna Sarumpaet! Berterimakasihlah! - Okami.id

SETELAH Ratna Sarumpaet memberikan pengakuan dosa, sepertinya dia akan berjalan seorang diri

Jangan Salahkan Ratna Sarumpaet! Berterimakasihlah!

Jangan Salahkan Ratna Sarumpaet! Berterimakasihlah!
Ratna Sarumpaet

Oleh: Yusran Darmawan*

SETELAH Ratna Sarumpaet memberikan pengakuan dosa, sepertinya dia akan berjalan seorang diri. Dia bukan lagi Kartini dan Tjut Nyak Dien, sebagaimana disebut Hanum Rais. Bukan lagi pejuang garda depan tim pemenangan Prabowo-Sandi.

Dia akan dilepas di tikungan dan diminta survive seorang diri. Itulah hukuman untuknya. Demikianlah takdir dunia politik kita.

Tapi saya berharap Ratna Sarumpaet tidak keluar gelanggang. Dunia televisi kita akan kehilangan tontonan seru berupa debat saling menyalahkan, dengan mimik serius dan penuh keyakinan. Kita bisa kehilangan seseorang yang rajin mengatas-namakan agama, sembari menuding seseorang telah zalim.

Bagi saya, keberadaan tokoh seperti Ratna Sarumpaet di kubu oposisi, dan Ali Ngabalin di kubu pemerintah, ibarat tontonan menghibur yang bikin betah menyaksikan layar kaca. Syaratnya adalah jangan baper dan larut dalam diskusi itu.

Cukup saksikan dengan niat mendapat hiburan dan tergelak menyaksikan argumen yang kadang heroik, tapi juga penuh kelucuan. Seharusnya, kita semua berterima-kasih kepada Ratna Sarumpaet. Jangan salahkan dirinya.

Dia telah membantu kita untuk menunjukkan banyak hal. Jika dia benar-benar meninggalkan panggung politik kita, maka Ratna punya banyak warisan penting:

Pertama, Ratna menunjukkan pada kita bahwa dunia politik bukanlah dunianya orang yang saling berargumen secara rasional dengan berlandaskan pada bukti-bukti. Dunia politik kita memang dunia yang penuh tengkar, tanpa ada landasan kuat.

Sebagaimana politisi lain, baik kampret maupun cebong, Ratna hanya mempercayai satu kenyataan yang sejak awal dipercayainya. Dia mengingatkan saya pada satu pelajaran dalam ilmu sosial yakni orang hanya ingin melihat apa yang ingin dia lihat. Orang-orang hanya akan percaya pada apa yang ingin dia percayai.

Maka, orang-orang yang tampil menjadi juru bicara atau representasi berbagai kubu bukan orang yang kompeten dan menguasai satu topik, melainkan para samurai yang menebas semua argumentasi dengan ngawur, tanpa permainan pedang argumentasi yang memukau.

Berkat Ratna, kita jadi tahu bahwa politik kita adalah seni menang-menangan, yakni seni untuk menyatakan sesuatu itu benar melalui berbagai cara.

Kedua, Ratna menunjukkan para politisi kita memang lucu-lucu. Jauh-jauh Fadli Zon kuliah di Inggris, bahkan hingga bergelar doktor, dia tetap saja tidak bisa menalar dengan jernih, serta melakukan verifikasi atas apa yang menimpa Ratna.

Ratna sukses memainkan teater yang juga mengecoh Profesor Amien Rais hingga Prabowo Subianto. Semua elite politik ini tidak lagi menalar dengan jernih, seba terlanjur melihat ini sebagai komoditas politik yang bisa menaikkan elektabilitas.

Tanpa proses check and recheck, konferensi pers dilakukan sembari menitip gugatan pada negara yang represif dan tega memukuli seorang perempuan tua. Pengakuan Ratna juga memperkuat argumentasi yang terlanjur dipelihara kelompok itu sejak awal bahwa negeri ini memang bobrok dan penuh masalah sehingga presiden harus diganti.

Ketiga, pengakuan Ratna ibarat tamparan bagi semua media-media mainstream yang seharusnya memberikan kita informasi yang jernih.

HALAMAN
123
Leaderboard
close