Jangan Salahkan Ratna Sarumpaet! Berterimakasihlah! [Page 2] - Okami.id

SETELAH Ratna Sarumpaet memberikan pengakuan dosa, sepertinya dia akan berjalan seorang diri [Page 2]

Jangan Salahkan Ratna Sarumpaet! Berterimakasihlah!

Jangan Salahkan Ratna Sarumpaet! Berterimakasihlah!
Ratna Sarumpaet

Betapa terkecohnya semua media-media besar yang ramai-ramai memberitakan peristiwa pemukulan, tanpa melakukan verifikasi pada data-data lapangan. Semua berlomba menyiarkan, tidak ingin kecolongan.

Ratna memang berbohong. Tapi kebohongannya tidak akan menimbulkan skala heboh dan besar jika tidak diliput secara massif oleh banyak media. Kebohongan itu hanya akan menjadi obrolan lepas di warung kopi, jika tidak ramai-ramai diperbincangkan politisi di berbagai media.

Makanya, marilah kita bersama-sama membuat pengakuan. Bahwa ada satu aspek paling penting dari disiplin media yang hilang, yakni disiplin verifikasi.

Mahaguru jurnalistik, Bill Kovach, menyebut verifikasi sebagai sesuatu yang membedakan antara jurnalisme dengan hiburan (entertainment), propaganda, fiksi, atau seni. Harusnya para jurnalis melakukan disiplin verifikasi yang tercermin dalam praktik-praktik seperti mencari saksi-saksi peristiwa, membuka sebanyak mungkin sumber berita, dan meminta komentar dari banyak pihak.

Disiplin verifikasi berfokus untuk menceritakan apa yang terjadi sebenar-benarnya. Dalam kaitan dengan apa yang sering disebut sebagai “obyektivitas” dalam jurnalisme, maka yang obyektif sebenarnya bukanlah jurnalisnya, tetapi metode yang digunakannya dalam meliput berita.

BACA: Berkat Syair, Ribuan Warga Pulau Itu Selamat dari Tsunami

Keempat, Ratna juga menunjukkan bahwa dunia sosial tidak memberikan ruang memadai untuk mendengar suara mereka yang punya keilmuan, keahlian dan spesifikasi tertentu. Keahlian seseorang diabaikan begitu saja hanya karena terlanjur percaya sesuatu.

Saya menyimak perdebatan antara Tompi, seorang penyanyi dan dokter ahli bedah estetik. Sebagai seorang ahli di bidang bedah estetik, Tompi sudah mengemukakan diagnosanya. Dia mengatakan bahwa ada kejanggalan di situ.

Dia tidak percaya Ratna dipukuli. Sebagai dokter ahli yang setiap hari “mempermak” muka orang, dia jelas mengenali apa yang terjadi. Tapi, opini yang disampaikan Tompi itu malah ditanggapi negatif oleh Fahri Hamzah dan Fadli Zon

Bukannya berterimakasih karena diberi informasi yang benar, keduanya balik menyerang Tompi. Jagad Twitter heboh. Tompi membalas: “Saya yang keliru atau Anda yang keliru. Easy! Cukupkan!”

Padahal, Tompi kan seorang dokter. Pendapatnya mesti didengarkan sebab dia sering menemui hal seperti ini. Di pengadilan mana pun terhadap kasus-kasus mengenali luka, suara seorang ahli akan didengarkan terlebih dahulu sebelum orang-orang membangun opini.

Yang aneh, Hanum Rais ikut-ikutan menanggapi. Dengan latar belakangnya sebagai seorang dokter, dia pun ikut mencuit bahwa dirinya melihat dari dekat dan tahu membedakan mana luka karena operasi dan mana karena dipukuli.

Dalam satu video, terlihat dia memapah Ratna dari dekat dan kemudian berkata kalau Ratna serupa Kartini dan Tjut Nyak Dien. Kini, kepada Hanum Rais, kita seharusnya memberi saran supaya lebih banyak lagi belajar sebelum memberikan penilaian.

Jika saya adalah pasien, saya akan menghindarinya. Dia sudah terbukti salah diagnosa. Tapi kalau dipikir-pikir, ini bukan soal keilmuan. Ini adalah keyakinan atas sesuatu, tanpa proses pengecekan.

Kelima, Ratna juga telah memberikan bahan bagi para ustad untuk kian menyalahkan rezim berkuasa. Di Twitter, saya melihat seorang ustad yang berpakaian seperti penceramah, lalu menyatakan bahwa foto Ratna babak belur itu asli, bukan hoax.

HALAMAN
123
Leaderboard
close