Jika Tak Ada Syahrir Ramadhan - Okami.id

Di tahun 2007, dia menemui saya dengan membawa proposal mengenai penulisan buku.

Jika Tak Ada Syahrir Ramadhan

Jika Tak Ada Syahrir Ramadhan
Syahrir Ramadhan

Oleh: Yusran Darmawan*

Jika tak ada anak muda ini, barangkali saya tak akan menemukan passion saya di dunia kepenulisan. Di tahun 2007, dia menemui saya dengan membawa proposal mengenai penulisan buku.

Pada masa itu, mahasiswa sedang senang-senangnya berdemonstrasi. Mahasiswa suka dengan hal-hal heroik, mulai dari menutup jalan sambil orasi dengan megaphone, juga sesekali menjalankan agenda politisi.

Tapi, anak muda yang masih berstatus mahasiswa ini mengajak saya terlibat membuat buku bertemakan budaya Buton. Hah?

Saya memandang anak muda bernama Syahrir Ramadhan –lebih akrab disapa Dambo- dengan takjub. Dia mengejutkan saya dengan kalimat: “Kalau bukan kita, siapa bang?”

Saya terkejut karena buku bertema budaya tidak akan menarik bagi sebagian orang, khususnya politisi lokal yang punya akses pada sumber dana. Saya ingat Aan Mansyur, sahabat yang kini jadi penyair kondang, pernah cerita kalau buku paling disuka para politisi di Sulawesi adalah biografi yang isinya puja dan puji. Di mata saya, buku sejenis selalu ada unsur tipu-tipu. 

Baca: ANDRI ALIMUDDIN yang Saya Kenal

Dambo mulai bercerita. Di kampung kami, banyak yang paham budaya dan sejarah. Tapi kebanyakan hanya tula-tula atau obrolan lepas di warung kopi. Itu pun banyak dibumbui dengan mistik. Makanya, anak-anak muda malah terasing dan tidak punya pemahaman sejarah yang baik.

Ditambah lagi, tidak ada ekosistem literasi, khususnya komunitas yang suka menulis dan membaca buku bertema budaya. Ada pula sejumlah orang yang mengklaim diri sebagai pemilik otoritas. Saat ada yang coba bahas sejarah dan budaya, bukannya didorong dan dikembangkan, malah dianggap ngawur dan sok tahu.

Harusnya didorong biar iklim penerbitan tumbuh. Harusnya semangat itu dipupuk dan diperkaya melalui dialog yang mencerahkan. Makin banyak yang menulis, kan makin bagus. Budaya Buton makin berkembang.

Ekosistem literasi mesti dikembangkan. Semua harus saling mengapresiasi. Ide-ide baru harus dimunculkan. Semua pihak harus menjadi tanah gembur agar tunas-tunas pengetahuan tumbuh. Dengan cara begitu, kita bisa berharap akan lahir banyak buku bagus mengenai Buton.

Dambo juga cerita tentang beberapa buku yang dibuat di daerah. Rata-rata hanya fotokopian, dengan kualitas yang jelek. Buku-buku ini tidak punya ISBN atau tidak teregistrasi di perpustakaan nasional.

“Kualitasnya jauh sekali kalau dibandingkan dengan buku mengenai Bugis Makassar yang diterbitkan teman-teman Penerbit Ininnawa” katanya.

Dia meyakinkan saya kalau buku lokal pasti punya pasar. Jumlah orang Buton ada jutaan orang. Kalau mereka disodorkan buku bertema budaya, pasti akan tertarik. “Siapa sih yang tidak tertarik baca cerita mengenai kampung halamannya?” katanya.

Baca: Prediksi Akurat Siapa Kalah Menang di Pilpres

HALAMAN
12
Leaderboard
close