Kiat Efektif Bagi Caleg dan Politisi untuk Segera Marajai Media Sosial - Okami.id

Kepadanya saya menyarankan untuk fokus pada medan tempur yang sedang dimasukinya.

Kiat Efektif Bagi Caleg dan Politisi untuk Segera Marajai Media Sosial

Kiat Efektif Bagi Caleg dan Politisi untuk Segera Marajai Media Sosial
ilustrasi

Oleh: Yusran Darmawan*

JIKA saja kawan itu tidak mengaku terus terang, mungkin saya tidak akan tahu kalau namanya tercatat sebagai salah seorang calon anggota legislatif. Setiap hari, saya menyaksikan postingannya yang menjelekkan pemerintah. Apa pun informasi negatif yang diterimanya, langsung dibagikan ke mana-mana, tanpa dinalar.

Kepadanya saya sampaikan bahwa publik media sosial di Indonesia terbagi atas dua kelompok besar. Satu mendukung pemerintah, satunya adalah oposisi. Jika dirinya selalu melempar postingan negatif pada satu pihak, maka sudah pasti dirinya tidak akan didukung oleh kelompok itu.

Malah, antipati akan muncul pada dirinya. Dia bisa disebut penghasut, penebar hoaks, atau barangkali dianggap biang perpecahan. Jika bernasib sial, dia bisa saja diperkarakan dan kemudian masuk penjara. Saat itu, jangankan terpilih, bisa menjadi manusia bebas saja akan jadi impian.

Di sisi lain, kubu yang sealiran pemikiran dengannya juga belum tentu akan memilihnya. Sebab ada banyak orang sepertinya yang memilih jadi martir di media sosial. Dalam kerumunan itu, dia tidak akan diingat. Begitu capres terpilih, dia akan mudah dilupakan sebagaimana kekeringan yang dihapuskan hujan sehari.

Kepadanya saya menyarankan untuk fokus pada medan tempur yang sedang dimasukinya. Daripada sibuk dalam perang besar antara dua kelompok di pusat, dengan amunisi kuat yang dipasok para pemodal, lebih baik dia fokus pada arena kecil perang yang akan dimasukinya.

Lebih baik dia fokus pada pemilihnya, memetakan segmen mana yang hendak dimasuki, kemudian mulai merencanakan strategi. .

Sejauh yang saya amati, hanya ada tiga cara bagi seorang politisi mendekati konstituennya.

Pertama, langsung mendekati konstituen. Biasanya dilakukan melalui blusukan, temu kader, pengobatan gratis, atau mendatangi rumah ke rumah. Strategi ini butuh biaya dan juga waktu. Apalagi kalau daerah pemilihannya punya banyak gunung dan lembah. Bisa-bisa Anda gak jadi politisi, tapi jadi pendaki gunung.

Kedua, melalui tokoh berpengaruh. Sebab masyarakat kita masih patron-client sehingga sejumlah orang dianggap punya pengaruh ke orang lain. Tapi, cara ini juga berisiko transaksional. Sering kali tokoh berpengaruh tidak memberi dukungan secara gratis. Lain halnya kalau keluarga Anda pernah memberi utang pada tokoh itu. Dijamin gratis.

Ketiga, melalui media. Saya mencatat ada beberapa perubahan muncul dalam Pemilu ini. Di antaranya adalah kian meredupnya pengaruh media mainstream seperti koran. Dahulu, Anda cukup menjalin relasi dengan bos perusahaan media, atau redaktur, maka dijamin Anda akan terkenal. Sekarang strategi itu tidak bisa lagi jadi satu-satunya sandaran. 

Bahkan, sering beriklan di media online juga tidak bisa jadi strategi utama. Mengapa? Sebab media online tidak merinci dengan jelas iklan Anda dilihat berapa orang, dari daerah mana saja, apakah itu masuk dapil anda atau bukan.

Media online juga tidak memberi informasi sejauh mana out-take atau impresi orang-orang yang melihat iklan, juga tidak akan memberi informasi bagaimana outcome atau respon dan masukan orang-orang yang menyaksikannya.

Menurut saya, cara paling efektif dan murah untuk menyapa konstituen adalah melalui media sosial. Tak perlu mengeluarkan biaya sebesar membuat balio dan memajangnya di jalan-jalan. Cukup sedikit biaya untuk membeli kuota internet, juga fasilitas Google Adsense atau Facebook Ads.

Setiap saat Anda bisa menyapa orang-orang dan meyakinkan mereka untuk memilih Anda. Di situ, generasi milenial selalu berkumpul dan saling berbagi informasi, mulai dari makanan hingga pilihan politik. Jika dikelola dengan benar, postingan media sosial akan seperti air menetes yang secara perlahan akan membelah batu.

HALAMAN
1234
Leaderboard
close