Kiat Praktis untuk Selamat dari Tsunami Hoaks ala Ratna Sarumpaet - Okami.id

DALAM diri kita ada potensi untuk terpapar hoaks seperti yang pernah disebar Ratna Sarumpaet.

Kiat Praktis untuk Selamat dari Tsunami Hoaks ala Ratna Sarumpaet

Kiat Praktis untuk Selamat dari Tsunami Hoaks ala Ratna Sarumpaet
ilustrasi

Oleh: Yusran Darmawan*

Dalam diri kita ada potensi untuk terpapar hoaks seperti yang pernah disebar Ratna Sarumpaet. Kita mudah percaya sesuatu, apalagi itu disebar di media sosial seperti Facebook, WhatsApp Groups, dan Twitter yang diberi label rahasia atau informasi A1.

Emosi kita mudah tersulut saat membaca pesan-pesan yang seolah memaparkan dinamika di lapis paling dalam. Padahal, banyak informasi yang disebar itu sengaja dibuat satu kelompok yang tujuannya untuk mengaburkan informasi.

Bahkan, sering kali kelompok yang sama membuat informasi pesanan dari dua kubu yang sedang berhadapan. Di era ini, informasi menjadi sesuatu yang diperdagangkan. Jasa pabrik konten menjamur. Para penggiat media sosial mudah digiring dengan sesuatu yang seolah-olah fakta.

Tanpa sadar, kita menjadi mainan para spin doctors, dan mereka yang sengaja dibayar untuk mempengaruhi opini melalui berbagai tulisan pendek yang serupa api kecil menyebar di sekam yang telah disiram bensin prasangka.

Informasi lalu diberikan label lingkar dalam dan tidak jelas ditulis siapa menjadi sesuatu yang mudah menyebar. Bahkan, sering kali mencatut nama tokoh publik dengan tujuan agar lebih mudah diterima publik.

Kita berada di era post-truth ketika fakta dan fiksi telah dicampur-aduk. Kita tidak tahu mana yang benar sebab informasi berseliweran dan disebarkan dengan cepat melalui algoritma media sosial.

Bagaimanakah kiat-kiat agar tidak terjebak dalam berbagai setingan informasi dan berbagai provokasi agar membenci yang lain?

***

KAWAN itu tiba-tiba saja marah-marah. Dia membaca pesan yang dikirim melalui WhatsApp Groups. Isinya adalah bagaimana politik sengaja didesain untuk menyingkirkan seseorang. Kawan itu mengidolakan seorang politisi.

Dia tidak rela jika idolanya difitnah dan sengaja dijebak sehingga tampak bodoh dan jadi bulan-bulanan. Saat membaca informasi di HP-nya, dia merasa tahu bayak hal. Hal pertama yang dia lakukan adalah menyebar tulisan itu ke banyak grup.

Dia merasa informasi yang benar harus disebarkan. Apalagi jika informasi itu disampaikan seseorang yang sejak dulu dikaguminya. Tak sampai tiga hari, datang bantahan. Informasi yang disebarnya ternyata hoaks.

Kawan itu tidak merasa salah apa pun. Malah, meskipun sudah ada bantahan, dia tetap saja lebih percaya pada informasi yang lebih dahulu disebarnya. Jangan mengira kawan itu tidak berpendidikan sehingga mudah terpapar hoaks. Dia seorang doktor.

Dia adalah satu dari sejumlah orang yang mudah terpengaruh oleh tulisan pendek yang disebar melalui media sosial. Kita berhadapan dengan tsunami informasi, di mana ada banyak akun anonim yang seolah-olah membocorkan fakta tersembunyi.

Polanya adalah menuturkan sesuatu seolah-olah itu adalah inside story yang lengkap alurnya, serta siapa-siapa yang bermain di belakang setiap peristiwa. Narasinya membahas orang per orang, serta kepentingan, yang lalu mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi.

HALAMAN
1234
Leaderboard
close