Memahami Air Mata Miftahul Jannah [Page 2] - Okami.id

Nama Miftahul Jannah sontak bikin heboh. Dia bikin Indonesia terharu. [Page 2]

Memahami Air Mata Miftahul Jannah

Memahami Air Mata Miftahul Jannah
Miftahul Jannah bersedih.

Habibie sejak kecil menderita penyakit Muscular Dystrophy Progressive tipe Backer. Ada kelainan di otak kecil Habibie yg menyebabkan perkembangan syaraf motoriknya terganggu, sehingga pertumbuhannya terhambat. Dokter memprediksi umurnya hanya sampai 25 tahun saja.

Saya sendiri di kampung memiliki kerabat yang tak mampu melihat dengan sempurna. Di usianya yang kini menginjak 68 tahun dia tak pernah menampakkan kesedihannya.

Wa Sa’diah begitu kami memanggil namanya, bertarung sendiri untuk kehidupannya. Ia tinggal sendirian di rumah panggung, tak memiliki suami apalagi anak.

Tonton : Miftahul Jannah dari Judo Pindah Jadi Atlet Catur

Ia sehari-hari menjadi tukang pijat. Meski hidup serba kekurangan ia tak pernah takut untuk berbagi. Hampir setiap saya berkunjung ke rumahnya, ia selalu memberi makanan dari dapurnya yang mungil.

Jika sudah seperti itu, di rumahnya saya kerap menggodanya, dengan bertanya mengapa dia memberi saya makanan, kan dia juga tidak punya.

Maka ia akan menasehati saya tentang agama, perilaku dan hubungan antar sesama. Menurutnya hidup ini hanyalah tempat untuk beristirahat sejenak, sebelum menuju ke alam keabadian. 

Memang saya perhatikan Wa Sa'diah tekun menjalankan prinsip agamanya. Shalat tak pernah ia tinggalkan, bahkan shalat sunnah seperti Dhuha'.

Zakat pun demikian. Ia kerap menolak pemberian zakat masyarakat desa. Baginya dia bukanlah dhu'afa yang pantas dikasihani. Masih banyak orang yang membutuhkan.

Sayangnya kita kerap melihat penyandang disabilitasi seperti Miftahul Jannah, Habibie atau Wa’ Sadiah sebagai orang yang memiliki keterbatasan. Padahal mungkin saja mereka memiliki sesuatu yang ebih istimewa dibanding kita yang merasa 'lengkap' ini.

Sangat menyedihkan jika akhirnya kita memandang mereka hanya sebagai obyek untuk kesenangan. Menertawakan dan mengasihani mereka sehingga menempatkannya di posisi ‘kelas dua’.

Seperti perlakuan kita terhadap Miftahul Jannah. Mungkin tidak disadari kita telah mengeksploitasi kekurangannya untuk keuntungan pribadi.

Insiden ia diskualifikasi baru-baru ini masih saja dibawa-bawa ke ranah politik demi mendapat simpati.

Padahal ia, jelas menyatakan memilih didiskualifikasi karena tidak mau melanggar prinsipnya. Dia fair, diterimanya keputusan itu dengan lapang hati.

Di dunia maya bertebaran opini bahwa insiden Miftah sebagai bentuk diskriminasi bagi muslimah. Aturan kafir yang dibawa ke Indonesia. Hingga memaki pemerintah karena tidak bisa melobi pihak panitia dimana kita sebagai tuan rumah.

HALAMAN
123
Leaderboard
close