Memahami Air Mata Miftahul Jannah [Page 3] - Okami.id

Nama Miftahul Jannah sontak bikin heboh. Dia bikin Indonesia terharu. [Page 3]

Memahami Air Mata Miftahul Jannah

Memahami Air Mata Miftahul Jannah
Miftahul Jannah bersedih.

Padahal insiden itu sesuatu hal yang sederhana. Ada pejudo penyandang disabilitas dan kebetulan dia berjilbab. Dia melanggar yang sudah ditetapkan sejak 2012.

Wasit pun meminta pejudo memilih, membuka jilbab sesuai aturan pasal 4 atau didiskualifikasi. Seharusnya selesai, substansinya ialah aturan yang tidak boleh dilanggar.

Tapi mengapa netizen seolah gagal paham? Saya melihat ini ada hubungannya dengan karakter masyarakat kita yang terbiasa memaksakan kehendak. Ingin anaknya lulus PNS, didekati lah keluarga yang punya jabatan.

Mau urusan administrasi cepat kelar, pakai duit ‘pelicin’. Ketika kena hukuman karena ada aturan, sibuk mencari kambing hitam atau menyalahkan si pembuat aturan.

Kembali pada kasus Miftahul Jannah, aturan pelarangan jilbab adalah demi keselamatan sang atlet. Olahraga Judo erat kaitannya dengan bantingan dan kuncian, pertarungan jarak dekat yang membuat lawan bisa meraih apapun dari badan sang lawan.

Mantan atlet karateka nasional Muhammad Wisnu mengatakan: “Kenapa (jilbab dilarang)? Karena leher bagian dari titik poin serangan. Kalau cedera di bagian situ, wasit tahu darimana kl tertutup? Akibatnya bisa cacat seumur hidup dan sampai ada yg wafat di matras. Apalagi yang pakai Hijab, bisa jadi sasaran ditarik lawan, apalagi ini judo yang fokus pada lipatan dan bantingan, bahaya banget,”tulisnya di twitter

Tapi kata netizen banyak atlet berjilbab di Asian Games 2018 lalu dan tidak apa-apa. Yah, karena mereka bukan penyandang disabilitas, kenapa berbeda dengan karate atau silat dimana atlet kita Defia Rosmaniar yang berjilbab meraih emas pertama untuk Indonesia? Beda.

Karate, Silat atau Taekwondo menggunakan gaya berdiri. Judo tidak, ketika dalam posisi rangkulan bawah di martas, lawan bisa menerapkan kuncian choke atau cekikan yang akan sangat berbahaya. Apalagi mereka sama-sama, (maaf) tidak bisa melihat sempurna.

Tonton : Sosok Miftahul Janna, Pejudo Aceh yang Mundur dari Asian Para Games

Mungkin Miftah bukan hanya sosok yang dikirim Allah SWT kepada kita agar tidak lupa kepada-Nya dalam mengejar dunia. Juga untuk mengingatkan kita jangan terus bertengkar, saling fitnah, terpecah belah karena pilihan politik.

Sudah cukup bencana silih berganti yang datang sebagai bentuk ujian atau mungkin teguran kepada bangsa kita.

Mengapa kasus Miftah jannah dipolitisir untuk menyerang kelompok yang bukan bagian dari kubu kita? sebegitu senangkah kita menyaksikan adanya perkelahian di linimasa karena gosip-gosip.

Padahal bagi Miftah sendiri, dia sudah bangga dengan sikapnya. Dia berkata mending terlihat buruk di mata manusia daripada terlihat buruk di mata Allah SWT.

Maka seharusnya kita memahami tangisan Miftahul Jannah adalah tangisan kebahagiaan karena telah mengalahkan egonya, mengalahkan dirinya sendiri, memilih prinsip dibanding  mendapatkan medali.

Meski sore itu Miftahul Janna dinyatakan kalah, namun juaranya sesungguhnya adalah dia. Dia meninggalkan lapangan pertandingan bukan sebagai pecundang tapi sebagai pemenang di atas pemenang.

“Lebih banyak lega. Saya juga bangga karena sudah bisa melawan diri sendiri, melawan ego sendiri. Saya punya prinsip tak mau dipandang terbaik di mata dunia, tapi di mata Allah," ujarnya bangga sesaat setelah didiskualifikasi.

Leaderboard
close