Opini Asri Anas (1): Kota Mamuju, Bukan Mamuju City! - Okami.id

TEPAT 28 Oktober 1928 lalu, para peletak dasar kebangsaan kita telah bersumpah tentang tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu.

Opini Asri Anas (1): Kota Mamuju, Bukan Mamuju City!

Opini Asri Anas (1): Kota Mamuju, Bukan Mamuju City!
Asri Anas

Oleh: Muhammad Asri Anas*

TEPAT 28 Oktober 1928 lalu, para peletak dasar kebangsaan kita telah bersumpah tentang tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu. Beberapa hari lalu, kita merayakannya sembari tetap menjaganya sebagai warisan dan identitas bangsa di tengah globalisasi yang menderu.

Di seluruh Indonesia, termasuk Sulawesi Barat, sekadar menjaga ketiganya sebagai warisan bukanlah cara yang tepat. Kita harus membumikannya dalam segala aktivitas sehari-hari. Tanah air, bangsa, dan bahasa harus dijelmakan dalam praktik kebangsaan dan kemasyarakatan.

Makanya, ketika ada wacana tentang penggantian landmark Mamuju City menjadi Kota Mamuju, saya sangat mendukung. Ketimbang menggunakan istilah asing yang bukan berasal dari rahim budaya kita, lebih baik kita menggunakan bahasa persatuan.

Dengan cara itu kita lebih berkepribadian. Namun, saya melihat perdebatan tentang nama ini menunjukkan cara pandang kita terhadap isu-isu kebangsaan, serta bagaimana visi besar kita memandang kemajuan sebagai penanda globalisasi.

Marilah kita mendiskusikannya dengan jernih. Sebagai anggota DPD, saya sering bepergian ke luar negeri. Saya melihat ada satu trend menarik bagi bangsa-bangsa yang memasuki era globalisasi. Hampir semua bangsa berusaha untuk menjaga identitasnya, sembari tetap melaju di pusaran globalisasi.

Dari sisi kebudayaan, globalisasi bisa didefinisikan sebagai kecenderungan untuk menyeragamkan budaya secara global. Salah satu penandanya adalah berbagai makanan cepat saji seperti KFC dan McDonald yang merambah ke mana-mana dan seakan-akan menjadi simbol kemajuan.

Dampak lain dari globalisasi adalah adanya kecenderungan untuk menenggelamkan semua yang lokal-lokal. Dari sisi bahasa, globalisasi menyebabkan bahasa Inggris seakan-akan menjadi satu-satunya bahasa internasional yang dipakai di seluruh dunia.

Sejauh pengamatan saya di banyak negara, globalisasi mendapatkan resistensi dari budaya lokal. Banyak kepala negara yang menolak untuk mengikuti penyeragaman.

Kita bisa lihat bagaimana Presiden Perancis Emmanuel Macron yang selalu menolak berbahasa Inggris dalam setiap aktivitas internasional. Dia selalu berbahasa Perancis dan membanggakan bahasanya itu.

Kita juga bisa melihat bagaimana Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang juga selalu berbahasa Jepang saat bertemu siapa pun. Demikian pula Presiden Cina, Xin Jinping, yang selalu memakai bahasa Cina.

Bukan berarti mereka tidak bisa berbahasa Inggris, melainkan mereka membanggakan identitasnya.

Pertanyaannya, jika para pemimpin dunia itu memilih untuk menonjolkan identitasnya, mengapa kita justru malah latah dengan memakai bahasa Inggris seolah-olah itu adalah bahasa ibu kita? Saya juga mencatat hal menarik.

Belakangan ini, ada wacana yang disebut glokalisasi yang dikemukakan sosiolog Roland Robertson tahun 2011 lalu. Glokalisasi adalah kecenderungan untuk melihat wacana global dengan cara pandang lokal. Beberapa pakar menyebutnya “think globally, act locally!”.

Maksudnya, kita harus berpikir global, tapi tetap bertindak lokal. Kita tetap mengedepankan identitas lokal demi berinteraksi dalam konteks global. Makanya, saya memandang perubahan nama Mamuju City menjadi Kota Mamuju itu adalah tindakan yang tepat demi menjaga identitas kita sebagai bangsa. Tapi tetap berada dalam koridor cara pandang global yang melihat kemajuan kita tak bisa lepas dari interaksi dengan budaya lokal.

HALAMAN
12
Leaderboard
close