Pengakuan Seorang Bupati yang Terciduk KPK - Okami.id

Di Bekasi, Bupati Bekasi dan stafnya digelandang KPK.

Pengakuan Seorang Bupati yang Terciduk KPK

Pengakuan Seorang Bupati yang Terciduk KPK
korupsi

Oleh: Yusran Darmawan*

Dewi Themis sedang marah. Di Bekasi, Dewi yang selalu menutup mata dengan tangan kiri memegang timbangan, sedang tangan kanan memegang pedang itu mengamuk. Melalui tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bupati Bekasi dan beberapa stafnya digelandang karena kasus suap.

Penegak hukum juga menangkap pengusaha yang menyuap para pejabat. Seperti biasa, rakyat kita tidak terkejut lagi. Di negeri ini, hampir setiap bulan ada saja kepala daerah yang tertangkap karena kongkalikong proyek dengan pengusaha.

Di negeri ini, ada simbiosis mutualisme antara politisi dan pengusaha. Para pengusaha membiayai seorang politisi demi menjadi kepala daerah, setelah itu kepala daerah akan membantu pengusaha demi proyek strategis. Kedua belah pihak sama-sama happy. Mengapa kepala daerah kita sangat mudah tergoda untuk melakukan korupsi?

Di satu kafe di Sarinah, saya bertemu seorang bupati yang was-was akan diciduk penegak hukum.

***

BAPAK itu lebih banyak diam. Dia lalu mengambil secangkir kopi hitam kemudian meminumnya hingga tandas. Dia bersama beberapa orang seolah sedang mengulur waktu di kafe itu. Saya menyapanya, yang kemudian dibalas dengan dingin. Saya merasakan adanya atmosfer rasa sedih di situ.

Bapak yang menjabat sebagai bupati di satu kawasan timur itu tetap berusaha ramah. Rupanya dia baru saja menyaksikan berita di layar televisi tentang tertangkapnya Bupati Bekasi bersama pengusaha. Dia lebih banyak diam.

Sejurus kemudian, bupati itu mulai bersuara. “Beginilah nasib kepala daerah. Setiap saat harus waspada pada jebakan betmen. Siapa pun bisa kena. Ini soal waktu.” Istilah “jebakan betmen” mengacu pada komedi di stasiun televisi tentang perangkap yang disiapkan kepada seseorang sehingga kemudian terjerat.

Bupati di hadapan saya ingin mengatakan bahwa setiap kepala daerah selalu berhadapan dengan “jebakan betmen.” Semuanya bisa terjerat ketika tidak hati-hati meniti di panggung kuasa, atau tidak pandai menjaga keseimbangan dan relasi dengan semua kelompok.

BACA: Eric Thohir di Mata Profesor Amerika

Dia mengurai perjalanannya untuk menjadi bupati. Demi mendapat rekomendasi partai, dia harus menyiapkan “setoran” pada petinggi partai. Jika satu kursi dihargai sampai 500 juta rupiah, dia harus siapkan miliaran rupiah untuk satu tiket.

Saya lantas teringat seorang cagub yang gagal memasuki arena di Jawa Timur. Dia meradang dan membuka semua permainan itu di media massa. Dia mengungkap berapa besaran angka yang harus disiapkannya demi mendapatkan suara partai.

Dalam banyak hal, saya tahu dia benar sebab saya sering mendengar kisah yang sama. Padahal, dirinya belum berhasil memasuki arena. Ketika masuk panggung pilkada, seseorang kembali harus menyiapkan amunisi besar untuk memenangkan perang itu.

Biarpun segala mekanisme pengawasan disusun, itu hanya berlaku di atas kertas. Faktanya, semua calon bergerilya menyiasati aturan, hingga siap-siap mengeluarkan semua senjata demi melakukan serangan fajar.

HALAMAN
123
Leaderboard
close