Tujuh Teori tentang Merapatnya AHY ke Jokowi [Page 2] - Okami.id

Apa makna dan pesan politik yang bisa disibak dari pertemuan itu? [Page 2]

Tujuh Teori tentang Merapatnya AHY ke Jokowi

Tujuh Teori tentang Merapatnya AHY ke Jokowi
pertemuan AHY dan Jokowi

Saya sangat yakin AHY paham situasi. Saat ini, penghitungan real count KPU sudah mencapai angka 62 persen. Belum ada tanda-tanda Prabowo-Sandi akan bisa mengalahkan Jokowi. Di kalangan pendukung Prabowo, masih banyak yang berkeyakinan kalau mereka akan menang.

Baca: Seusai Debat Capres, Panglima Medsos Mulai Bertempur

Namun, banyak pula yang sudah “buang handuk”, khususnya partai politik. Sebagian pendukung Prabowo menyerukan delegitimasi KPU serta permintaan agar ada diskualifikasi pada Jokowi-Amin. Ini juga tanda-tanda kekalahan.

Pernyataan AHY itu menunjukkan posisinya dan partainya yang lebih mendukung sikap pemerintah yakni menerima prosedur demokrasi yang sedang berjalan. Mereka tak mungkin ikut dalam aksi delegitimasi pada penyelenggara negara yakni KPU serta jalur konstitusi.

Keempat, sikap politik. Setiap kali SBY ataupun AHY mengeluarkan sikap, maka semua influencer di tubuh Partai Demokrat akan meneruskannya dalam berbagai pesan ke bawah. Sungguh menarik melihat postingan semua petinggi Demokrat yang tiba-tiba mendingin sejak pertemuan itu.

Perhatikan cuitan sejumlah pihak seperti Andi Arief, Rachland Nashidik, dan Ferdinand Hutahaean, Hinca Panjaitan. Andi Arief mengatakan: “Tugas Partai Demokrat dalam Koalisi Adil Makmur adalah: 1. Memenangkan Capres-Cawapres, 2. Memberikan saran dan Cara agar menang, 3. Jika tidak menang, memberi saran dan cara agar tak mempertinggi tempat jatuh 4. Melaporkan pada rakyat perkembangannya dengan fakta yang benar.”

Point ketiga pasti akan memicu reaksi dari koalisi Prabowo. Di saat semua koalisi masih yakin menang dengan segala perhitungan internal, tiba-tiba Andi Arief memberi pesan jika tidak menang dan cara agar tak mempertinggi tempat jatuh.” Apakah dia sudah meramalkan Prabowo akan jatuh?

Ferdinand Hutahean malah sudah memberikan pernyataan sikap partai. Bahwa setelah 22 Mei 2019, Demokrat akan membuka berbagai kemungkinan. Jika Prabowo menang, Demokrat akan tetap bersamanya.

"Jika KPU menetapkan Jokowi sebagai pemenang, maka Partai Demokrat mandiri dan bebas serta berdaulat menentukan sikap politiknya apakah kemudian akan bergabung dengan Jokowi atau tidak," katanya.

Kelima, latar sejarah. Sejak dulu, DNA politik SBY tidak pernah bertemu dengan DNA politik Prabowo. Keduanya memulai karier di militer, tapi keduanya punya takdir politik berbeda. SBY sukses menjadi presiden untuk dua periode, sementara Prabowo belum kesampaian.

Saat AHY bertemu Jokowi
Saat AHY bertemu Jokowi

SBY penuh perhitungan dan kalkulasi, Prabowo sering terburu-buru. Ketidaksesuaian itu sudah tampak di beberapa pilkada. Puncaknya adalah dalam penentuan capres. SBY tahu bahwa Megawati tidak akan memberi ruang bagi partainya di koalisi Jokowi, sehingga mau tak mau merapat ke Prabowo.

SBY ingin menang, makanya mengajukan duet Anies-AHY demi kemenangan. Namun Prabowo berpikir lain. Dia berpikir untuk tetap mengendalikan koalisi sekaligus mengamankan suara Gerindra sehingga dirinya tetap ngotot maju dan memilih Sandiaga Uno sebagai wakil. SBY dan Demokrat tak punya banyak pilihan selain menerima.

Meskipun petinggi Demokrat Andi Arief sibuk memojokkan Prabowo dengan sebutan jenderal kardus. Tapi bukan berarti Demokrat akan selalu mengikuti apa saja kehendak koalisi.

Keenam, visi keberagaman. Sejak awal, Demokrat selalu mengkritik kedekatan koalisi Prabowo dengan kelompok pendukung 212 yang menepatkan Habib Rizieq sebagai tokoh sentral. Betapa tidak Habib Rizieq pernah dipenjarakan pada era SBY.

Rizieq juga bermain dua kaki di pilkada DKI, dan terakhir tidak mendukung AHY. Kelompok 212 tidak merekomendasikan nama AHY dalam ijtimak ulama. Sikap ini banyak dikritik para petinggi Demokrat.

HALAMAN
123
Leaderboard
close